Jumat, 06 Juli 2012

Solo Carnival, Bule pun Kesengsem Batik

Solo- Minggu, (17/06) Batik memang sesuatu yang hal yang magis. Workshop ke-17 semakin semarak dengan kostum para peserta yang semakin komplit. Apalagi agenda hari ini adalah simulasi pertunjukan menuju 30 juni mendatang. Peserta pun melakukan formasi dengan menggunakan kostum mereka. Gedung pendapi gede pun menjadi tempat para peserta berlatih.

Bule juga tertarik keelokan batik...

Karena kostum-kostum peserta yang membutuhkan ruang yang luas, peserta pun dialihkan di halaman balaikotayang luas. Inilah yang menarik perhatian Alex dan Arthur, dua orang berkewarganegaraan prancis yang sedang berkunjung selama 1 bulan diIndonesia. Mereka tertarik dengan para kostum SBC mulai dari warnanya, penampilannya dan juga pemakainya. Bahkan, Arthur pun sempat mencoba mahkota salah satu peserta dan menari layaknya di karnaval dengan iringan musik.

Ketika ditanya tentang SBC 30 juni mendatang, mereka sebenarnya ingin menyaksikan. Hanya saja mereka harus meninggalkanIndonesiamalam ini. “Actually I want to see this, but I have to leave tonight”.

Arthur dan Alex juga merasa fantastis melihat pertunjukan batik karena ini adalah pengalaman pertama mereka melihat batik. Di Prancis, mereka tidak begitu kenal dengan batik. Setelah ini Arthur dan Alex akan mengunjungi Bromo. Mereka sangat senang denganIndonesia.

Sumber: http://solobatikcarnival.com/pesona-sbc-memikat-bule/

Kamis, 05 Juli 2012

Sejarah Teknik Batik



Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik". 

Seni pewarnaan kain dengan teknik perintang pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794).

Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.[2]. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.

G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.[4] Detil ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.

Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa.[Oleh beberapa penafsir, serasah itu ditafsirkan sebagai batik.

Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.

Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Hugh Clifford merekam industri di Pekan tahun 1895 bagi menghasilkan batik, kain pelangi, dan kain telepok. 

Aneka Buku Batik di Indonesia



Bagai laut, literatur tentang batik memiliki masa pasang dan surutnya. Dunia penerbitan buku modern sempat dibanjiri buku tentang batik pada 1920-an, yang rata-rata berisi pengenalan tentang kain asal Indonesia ini.
Lantas, pada dekade 1970-an muncul kembali buku yang membahas teknik membatik dan kreasi yang berusaha keluar dari jalur tradisional. Setelah itu, buku batik sepi lagi, dan baru kembali 20 tahun kemudian, masih dengan tema buku pendahulu namun dengan kemasan yang lebih menarik bagi pembaca awam.

Memasuki tahun 2000, buku-buku tentang batik kian banyak. Dan kali ini lebih berfokus pada desain pola dan corak batik, ditambah penggalian pada aspek sejarah dan sisi budayanya. Sayangnya, menjelang batik ditahbiskan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada Oktober mendatang, dunia literatur Indonesia justru masih miskin buku yang mengkaji serta mendokumentasikan desain-desain batik.

Walau begitu, bukan berarti tak ada sama sekali buku batik. Kegairahan berbusana batik, yang muncul dalam beberapa tahun terakhir ini, mulai memicu munculnya buku batik. Memang sejauh ini masih didominasi buku mode, yang mengetengahkan trik padu-padan dan tip memilih model rancangan baju batik yang modis dan modern.

Tahun ini perancang batik Iwan Tirta juga menerbitkan ulang bukunya Batik, A Play of Light and Shades, yang diterbitkan dalam bahasa Inggris pada 1996 oleh Favorit Press. Kali ini buku itu dirilis dalam bahasa Indonesia dengan judul Batik, Sebuah Lakon, yang tampil dalam kemasan yang lebih populer ketimbang pendahulunya, yang lebih mirip ensiklopedia.

Sejatinya buku ini berisi pergulatan kehidupan Iwan dengan batik. Namun, dia membukanya dengan penjelasan panjang-lebar soal sejarah batik. Dari buku ini bisa dipelajari soal kain simbut dari Jawa Barat yang, menurut Iwan, merupakan cikal-bakal kain batik. Iwan juga membahas corak batik pedalaman seperti Yogyakarta dan Solo, batik pesisir seperti Pekalongan, serta pengaruh masuknya pengusaha batik Indo dan Perang Dunia II terhadap desain kain batik.

Amat disayangkan, dalam versi terbarunya ini tak disertakan 60 corak batik yang sebetulnya salah satu dokumentasi terlengkap yang dibukukan. Selain buku tersebut, terbit buku yang membahas batik khas sebuah daerah, seperti Traditional Batik of Kauman Solo, yang dicetak berwarna dan lebih bersifat pengenalan minus kajian.

Adapun Ungkapan Batik di Semarang, yang ditulis Saroni Asikin, tampak diolah lebih matang dan memberi gambaran lebih jelas perihal batik di kota pesisir ini. Saroni membuka bukunya dengan penggalian asal-usul batik hingga kemunculan usaha batik di pesisir utara Jawa, termasuk Semarang, pada abad ke-19. Dia mengupas juga keberagaman etnis di kota itu yang mempengaruhi corak gambar batik serta geliat masyarakat dalam membatik hingga abad ke-21. Saroni menutup bukunya dengan menampilkan 65 motif batik Semarang disertai penjelasan sumber inspirasi dan makna motif tersebut.

Ada banyak informasi menarik soal sejarah batik dalam bab awal buku ini, termasuk tentang prasasti berisi tradisi membatik pada abad ke-10 dan asal-usul kata “batik” itu sendiri. Sumber informasi itu banyak diperoleh Saroni dari buku karya penulis asing.

Padahal, sebagai penulis yang hidup di tanah kelahiran batik, mestinya ia lebih mengusahakan sumber-sumber informasi lokal dengan menggali cerita di sentra-sentra batik di Jawa. Itulah yang dilakoni oleh peneliti tekstil dan batik, Hasanudin, saat menulis buku Batik Pesisiran; Melacak Pengaruh Etos Dagang Santri pada Ragam Hias Batik.

Dalam bukunya itu, penulis kelahiran Pekalongan ini mengupas habis soal ciri khas sentra batik di Pulau Jawa dan model pengelolaan bisnis kain tersebut. Hasanudin tak hanya menulis soal kain, tapi juga seluk-beluk peralatan membatik, dari cara pemakaian dan pemeliharaan hingga sentra produsen perlengkapan membatik tersebut. Hanya, buku yang lumayan komplet isinya ini merupakan terbitan 2001, yang tak lagi bisa ditemukan di toko buku.

Dari sekian banyak buku batik yang pernah terbit, yang terunik topiknya adalah karya Tim Peneliti “Batik Fisika” Bandung Fe Institute. Penulis buku ini, Hokky Situngkir dan Rolan Dahlan, mencoba memakai pendekatan sains dalam membedah motif batik, yakni dengan fraktal, sebuah cabang ilmu matematika yang menelisik teknik pengulangan. Dari hasil penelitian tersebut, mereka mengungkap batik tak hanya memiliki nilai filosofi dan budaya, tapi juga kaya akan perhitungan matematika.

Seperti buku batik lainnya, yang satu ini menawarkan ragam corak batik. Bedanya, motif dalam buku ini dibuat dengan sistem pemrograman komputer. Teknik desain ini menjadi inovasi terbaru dalam produksi batik dari setelah awalnya batik tulis, batik cap, dan batik sablon.

Sultan Hamengku Buwono X dalam pengantar buku yang penuh bahasa teknis ini menilai hasil desain batik komputer tersebut memiliki paduan warna dan motif yang inovatif dan unik tanpa meninggalkan corak batik khas Indonesia.

“Inovasi ini tak sekadar melestarikan artefak masa silam, tapi juga memiliki dinamika yang menjangkau masa depan,” katanya.

* Dinukil dari Harian Koran Tempo Edisi 13 September 2009 dengan judul asli: “Menulis Batik dalam Lembaran Buku” yang ditulis Oktamandjaya Wiguna. Ditulis kembali oleh
 http://indonesiabuku.com/?p=1664