Batu Akik Belimbing Pesawaran Lampung

Dalam peta batu akik Lampung, Kabupaten Pesawaran tidak pernah dihitung sebagai daerah yang memiliki kandungan bahan batu akil. Di Lampung, daerah yang terkenal dengan batu akiknya barulah Tanjungbintang (Lampung Selatan), Kabupaten Way Kanan, dan belakangan ini Kabupaten Pringsewu.

Tanjungbintang terkenal dengan batu akik bungur yang memiliki ciri khas warga ungu cerah dan harganta 'stabil tinggi'. Sedangkan Way Kanan terkenal dengan batu akik jenis solar, anggur api, dan batu gambar.

Di luar ketiga daerah itu, baru-baru terungkap adanya jenis batu akik jenis baru di Pesawaran. Johan, seorang pemulia batu akik, mengaku dirinya menemukan batu jenis baru itu secara tak sengaja.Sayangnya Johan masih belum mau membuka rahasia daerah mana di Pesawaran yang banyak mengandung batu akik jenis baru itu.

"Kami belum memiliki nama batu jenis baru ini. Warnanya hijau pupus daun pisang, tetapi berbeda dengan hijau pupus sungai dareh atau hijau giok Aceh.Jumlahnya masih terbatas dan langka," kata Johan.


Johan meyakini,batu akik asal Pesawaran kelak akan bisa menyaingi keterkenalan batu akik bungur Tanjungbintang atau batu Sungai Dareh Sumatera Barat.

Karena belum menemukan nama bagi baru yang ditemukannya, Johan menamakan batu akik asal Pesawaran itu sesuai dengan warnanya. "Karena berwarna seperti hijau buah belimbing, kami menyebutnya batu akik belimbing," kata Johan.


Sumber: http://www.teraslampung.com/2015/03/batu-akik-hijau-belimbing-pendatang.html
Dalam peta batu akik Lampung, Kabupaten Pesawaran tidak pernah dihitung sebagai daerah yang memiliki kandungan bahan batu akil. Di Lampung, daerah yang terkenal dengan batu akiknya barulah Tanjungbintang (Lampung Selatan), Kabupaten Way Kanan, dan belakangan ini Kabupaten Pringsewu.

Tanjungbintang terkenal dengan batu akik bungur yang memiliki ciri khas warga ungu cerah dan harganta 'stabil tinggi'. Sedangkan Way Kanan terkenal dengan batu akik jenis solar, anggur api, dan batu gambar.

Di luar ketiga daerah itu, baru-baru terungkap adanya jenis batu akik jenis baru di Pesawaran. Johan, seorang pemulia batu akik, mengaku dirinya menemukan batu jenis baru itu secara tak sengaja.Sayangnya Johan masih belum mau membuka rahasia daerah mana di Pesawaran yang banyak mengandung batu akik jenis baru itu.

"Kami belum memiliki nama batu jenis baru ini. Warnanya hijau pupus daun pisang, tetapi berbeda dengan hijau pupus sungai dareh atau hijau giok Aceh.Jumlahnya masih terbatas dan langka," kata Johan.


Johan meyakini,batu akik asal Pesawaran kelak akan bisa menyaingi keterkenalan batu akik bungur Tanjungbintang atau batu Sungai Dareh Sumatera Barat.

Karena belum menemukan nama bagi baru yang ditemukannya, Johan menamakan batu akik asal Pesawaran itu sesuai dengan warnanya. "Karena berwarna seperti hijau buah belimbing, kami menyebutnya batu akik belimbing," kata Johan.


Sumber: http://www.teraslampung.com/2015/03/batu-akik-hijau-belimbing-pendatang.html

Kisah Batu Akik Tanjung Bintang Lampung

Batu bungur dari Tanjungbintang. Inilah salah satu batu akik terbaik di Lampung yang harganya stabil. (Foto: Teraslampung.com)
BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com --Tanjungbintang tidak hanya dikenal karena pasir untuk bahan bangunan berkualitas baik. Ternyata, daerah ini sudah lama menjadi penghasil batu akik dan permata berkualitas baik di dunia.

Sejak 1970-an masyarakat setempat terperangah, karena hampir seluruh tanah di Tanuungbintang, Kabupaten Lampung Selatan ini, menyimpan kandungan batu akik dan permata. Batu akik bungur, terbaik nomor satu di Indonesia, ada di Tanjungbintang. Batu-batu akik itu diburu oleh pengoleksi akik dari pelbagai belahan dunia.

Tanjungbintang bisa ditempuh dari Panjang melalui daerah Subang. Atau dari Jalan Tirtayasa, Campangraya, Kota Bandarlampung melalui Jalan Ir. Sutami dan masuk ke Tanjuungbintang. Hanya saja, ruas jalan menuju ke Tanjungbintang, baik dari Panjang maupun dari Campangraya benar-benar rusak parah. Perjalanan menjadi lamban, lantaran harus menghindari jalan berlubang.

Tanjungbintang, semula sebagai daerah bagi penempatan transmigran TNI asal Pulau Jawa, melalui program barisan rekonstruksi nasional (BRN). Mata pencaharian penduduknya sebagian besar sebagai petani.

Sejak daerah ini dikenal sebagai penghasil batu akik dan permata, warga setempat pun berbisnis penghias cincin ini. Warga menekuni pekerjaan sebagai pengrajin batu akik dan permata. Dari penggali, pemotong, hingga mengasah batu akik.

Di antara pelaku bisnis batu aki di Tanjungbinyang, Susan Melone adalah  nama tak asing bagi penduduk setempat maupun para pengoleksi batu akik. Susan Melone menekuni bisnis batu akik sudah sangat lama. Ia termasuk pioner untuk memperkenalkan batu akik Tanjungbintang ke luar Lampung dan luar negeri.


 Susan mengaku tidak memiliki alat pemotong dan pengasah. Setelah penggalian, batu yang dianggapnya bernilai tinggi 'dilempar' kepada pemotong. Setelah itu ia serahkan kepada pengasah, sesuai ukuran dan bentuk yang diinginkannya.

Setelah jadi akik, ia pun mengikatnya dengan cincin (emban). Sedikitnya, saat ini, ada seribu batu akik yang sudah diikat pada cincin. Dan, seribu lebih lagi yang belum diberi cincin.

Cincin ber-akik lalu ia kirim ke kolega-koleganya, baik dalam provinsi maupun luar Lampung, dan bahkan luar negeri. Harga tertinggi yang pernah ia peroleh adalah Rp400 juta per-batu.

Menurut Susan Melone, daerah Tanjungbintang selain memiliki kandungan batu akik, seperti bungur, juga mengandung granit, dan pasir berkualitas baik.

Sejak batu akik dari daerah ini memiliki kualitas baik, banyak warga yang memburu batu ke sini. Para penggali batu secara tradisional pun mencari area, yang dipekirakan menngandung batu akik atau batu permata.

Hampir seluruh warga di Dusun Jatibaru menekuni sebagai pengrajin batu akik. Sehingga daerah ini dikenal sebagai pusat pengrajin akik dan permata. Setiap rumah memiliki mesin pemecah batu, pengasah atau penggosok, dan finishing.

“Tidak seperti dulu kami sulit mencari pekerja yang memotong dan mengasah akik. Sekarang, bisa dilihat hampir setiap rumah menjadi pengrajin,” kata Susan Melone.

Dia menambahkan, sejak batu akik dan permata asal Tanjungbintang banyak diburu orang, akhirnya menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga setempat. “Kami bersukur, setidaknya bisa mengurani pengangguran di daerah ini,” katanya lagi. (Baca: Bisnis Batu Akik: Dari Mana pun Berasal, Pusat Jual-Belinya di Pasar Tengah)

Para pengrajin akik tersebut, selain mengolah bahan sendiri atau menerima upahan. Mereka  mendapatkan upah antara Rp12 ribu hingga R15 ribu setiap batu akik yang diolah.

Jika mengolah batu mentah menjadi akik di Bandarlampung lain lagi. Mengasah batu akik berharga Rp25 ribu hingga Rp30 ribu. Beberapa kawasan pengasah batu akik, seperti kaliawi, Lebakbudi, Kampung Sawah, dan Rawasubur.

“Tapi sejak banyak permintaan batu akik, untuk memotong hingga mengasah dan finishing, harganya Rp30 ribu di Tanjungbintang,” jelas Susan Melone.

Batu akik dan permata yang dihasilkan dari Tanjungbintang sudah menembus kota-kota besar, seperti Bali, Yogyakarta, Batam, Pekanbaru, Malaysia, dan negara-negara luar lainnya.

Jika selama ini ada anggapan batu akik dari Martapura atau Banjarbaru, Kalimantan Selatan adalah kualitas bagus, kata Susan Melone, sebenarnya kualitas akik dari daerah ini lebih tinggi kualitasnya.

Di rumah Susan Melone, Desa Srikaton Gunung Batu, setiap hari selalu ramai. Para pemburu batu akik atau permata itu, selain ingin membeli, tak sedikit yang hanya untuk bertanya ihwal nama-nama batu akik, kualitas, aura dan mistik, serta mencari batu pengasih.

“Saya harus menerima dan melayani setiap tamu yang datang,” katanya.

Sumber: http://www.teraslampung.com/2014/03/kisah-batu-akik-dari-tanjungbintang.html
Batu bungur dari Tanjungbintang. Inilah salah satu batu akik terbaik di Lampung yang harganya stabil. (Foto: Teraslampung.com)
BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com --Tanjungbintang tidak hanya dikenal karena pasir untuk bahan bangunan berkualitas baik. Ternyata, daerah ini sudah lama menjadi penghasil batu akik dan permata berkualitas baik di dunia.

Sejak 1970-an masyarakat setempat terperangah, karena hampir seluruh tanah di Tanuungbintang, Kabupaten Lampung Selatan ini, menyimpan kandungan batu akik dan permata. Batu akik bungur, terbaik nomor satu di Indonesia, ada di Tanjungbintang. Batu-batu akik itu diburu oleh pengoleksi akik dari pelbagai belahan dunia.

Tanjungbintang bisa ditempuh dari Panjang melalui daerah Subang. Atau dari Jalan Tirtayasa, Campangraya, Kota Bandarlampung melalui Jalan Ir. Sutami dan masuk ke Tanjuungbintang. Hanya saja, ruas jalan menuju ke Tanjungbintang, baik dari Panjang maupun dari Campangraya benar-benar rusak parah. Perjalanan menjadi lamban, lantaran harus menghindari jalan berlubang.

Tanjungbintang, semula sebagai daerah bagi penempatan transmigran TNI asal Pulau Jawa, melalui program barisan rekonstruksi nasional (BRN). Mata pencaharian penduduknya sebagian besar sebagai petani.

Sejak daerah ini dikenal sebagai penghasil batu akik dan permata, warga setempat pun berbisnis penghias cincin ini. Warga menekuni pekerjaan sebagai pengrajin batu akik dan permata. Dari penggali, pemotong, hingga mengasah batu akik.

Di antara pelaku bisnis batu aki di Tanjungbinyang, Susan Melone adalah  nama tak asing bagi penduduk setempat maupun para pengoleksi batu akik. Susan Melone menekuni bisnis batu akik sudah sangat lama. Ia termasuk pioner untuk memperkenalkan batu akik Tanjungbintang ke luar Lampung dan luar negeri.


 Susan mengaku tidak memiliki alat pemotong dan pengasah. Setelah penggalian, batu yang dianggapnya bernilai tinggi 'dilempar' kepada pemotong. Setelah itu ia serahkan kepada pengasah, sesuai ukuran dan bentuk yang diinginkannya.

Setelah jadi akik, ia pun mengikatnya dengan cincin (emban). Sedikitnya, saat ini, ada seribu batu akik yang sudah diikat pada cincin. Dan, seribu lebih lagi yang belum diberi cincin.

Cincin ber-akik lalu ia kirim ke kolega-koleganya, baik dalam provinsi maupun luar Lampung, dan bahkan luar negeri. Harga tertinggi yang pernah ia peroleh adalah Rp400 juta per-batu.

Menurut Susan Melone, daerah Tanjungbintang selain memiliki kandungan batu akik, seperti bungur, juga mengandung granit, dan pasir berkualitas baik.

Sejak batu akik dari daerah ini memiliki kualitas baik, banyak warga yang memburu batu ke sini. Para penggali batu secara tradisional pun mencari area, yang dipekirakan menngandung batu akik atau batu permata.

Hampir seluruh warga di Dusun Jatibaru menekuni sebagai pengrajin batu akik. Sehingga daerah ini dikenal sebagai pusat pengrajin akik dan permata. Setiap rumah memiliki mesin pemecah batu, pengasah atau penggosok, dan finishing.

“Tidak seperti dulu kami sulit mencari pekerja yang memotong dan mengasah akik. Sekarang, bisa dilihat hampir setiap rumah menjadi pengrajin,” kata Susan Melone.

Dia menambahkan, sejak batu akik dan permata asal Tanjungbintang banyak diburu orang, akhirnya menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga setempat. “Kami bersukur, setidaknya bisa mengurani pengangguran di daerah ini,” katanya lagi. (Baca: Bisnis Batu Akik: Dari Mana pun Berasal, Pusat Jual-Belinya di Pasar Tengah)

Para pengrajin akik tersebut, selain mengolah bahan sendiri atau menerima upahan. Mereka  mendapatkan upah antara Rp12 ribu hingga R15 ribu setiap batu akik yang diolah.

Jika mengolah batu mentah menjadi akik di Bandarlampung lain lagi. Mengasah batu akik berharga Rp25 ribu hingga Rp30 ribu. Beberapa kawasan pengasah batu akik, seperti kaliawi, Lebakbudi, Kampung Sawah, dan Rawasubur.

“Tapi sejak banyak permintaan batu akik, untuk memotong hingga mengasah dan finishing, harganya Rp30 ribu di Tanjungbintang,” jelas Susan Melone.

Batu akik dan permata yang dihasilkan dari Tanjungbintang sudah menembus kota-kota besar, seperti Bali, Yogyakarta, Batam, Pekanbaru, Malaysia, dan negara-negara luar lainnya.

Jika selama ini ada anggapan batu akik dari Martapura atau Banjarbaru, Kalimantan Selatan adalah kualitas bagus, kata Susan Melone, sebenarnya kualitas akik dari daerah ini lebih tinggi kualitasnya.

Di rumah Susan Melone, Desa Srikaton Gunung Batu, setiap hari selalu ramai. Para pemburu batu akik atau permata itu, selain ingin membeli, tak sedikit yang hanya untuk bertanya ihwal nama-nama batu akik, kualitas, aura dan mistik, serta mencari batu pengasih.

“Saya harus menerima dan melayani setiap tamu yang datang,” katanya.

Sumber: http://www.teraslampung.com/2014/03/kisah-batu-akik-dari-tanjungbintang.html
 
2011 JURAGAN BATU AKIK | Blogger Templates for Over 50 Chat Sponsors: Short People Club, Michigan Mechanical Engineer Jobs, California Dietitian Jobs